Talenta 56 | Inspirasi Tanpa Batas

Tampilkan postingan dengan label Sosial Masyarakat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial Masyarakat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Februari 2011

Polisi Selidiki Pelaku Penyerangan dan Blokir Ponpes Ma’hadul Islam Pasuruan



Polisi Selidiki Pelaku Penyerangan Ponpes Al Ma'hadul Islam
Aparat kepolisian berjanji akan menindak tegas terhadap pelaku penyerangan ke Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ma'hadul Islam Yayasan Pesantren Islam (YAPI) di Desa Kenep Kecamatan Beji, Pasuruan.

"Siapa pun yang melakukan pelanggaran, ya kita tindak tegas. Kita masih lakukan penyelidikan," kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Pudji Astuti saat dihubungi detiksurabaya.com, Selasa (15/2/2011).

Namun, Pudji belum bisa memberikan keterangan, siapa pelaku maupun motif massa yang melakukan pelemparan batu hingga menyebabkan 9 korban luka-luka dari santri Ponpes YAPI. "Kita masih terus melalukan penyelidikan," jelasnya.

Seperti diberitakan, ratusan massa yang tidak dikenal mengenakan sarung sambil mengendarai sepeda motor, masuk ke dalam pintu gerbang dan melempari ponpes yang dikenal menganut syiah dengan lemparan batu, sekitar pukul 14.00 WIB.

Saat ini, polisi dari Polres Pasuruan dan dibackup 2 Kompi Brimob Polda Jatim, sudah mengembalikan situasi dan kondisi kembali normal. Akibat penyerangan oleh massa itu, 9 santri menderita luka-luka. (roi/fat)

Kini Polres Pasuruan sudah mengamankan tiga orang terkait penyerangan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ma'hadul Islam Yayasan Pesantren Islam (YAPI) di Desa Kenep Kecamatan Beji, Pasuruan, siang tadi, Selasa (15/2/2011)

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Badrodin Haiti menjelaskan bahwa saat ini sudah ada tiga orang diamankan yang sudah di periksa di Polres Pasuruan. "Tiga orang sudah kita tangkap dan kita mintai keterangan untuk dikembangkan kembali. Kemungkinan mengarah ke orang lainnya itu ada," kata Badrodin kepada wartawan.

Selain itu kejadian penyerangan pondok pesantren ini bukan kali pertama, tetapi sejak 2007 penyerangan terhadap pesantren ini pernah terjadi.

Penyerangan hari ini terjadi awalnya pada pukul 03.00 WIB dengan lemparan-lemparan batu. Sampai akhirnya pada pukul 14.00 WIB dilakukan penyerangan terhadap pesantren tersebut sekitar 100-200 orang. Akibat penyerangan tersebut enam orang dinyatakan terluka.

Saat ini 50 anggota TNI dan 100 orang polisi sudah diturunkan untuk mengamankan lokasi kejadian termasuk juga dari Brimob. 

Pasca Penyerangan Ponpes Ma’hadul Islam Muspida Pasuruan Blokir Pondok Pesantren

Pasca  Pondok Pesantren Ma’hadul Islam di desa kenep kecamatan Beji, Bangil, Pemkab Pasuruan langsung bergerak cepat sebagai antisipasi penyerangan terhadap santri dari jama’ah pondok tersebut agar tidak merembet yang lebih luas lagi.

Plt Bupati Pasuruan, Edi Paripurna saat dikonfirmasi melalui ponselnya, Rabu (14/2/11) mengatakan bahwa setelah peristiwa tersebut pihaknya langsung menggelar pertemuan antar muspida di kabupaten Pasuruan untuk mencegah sampai terjadinya rusuh lebih luas.  “Baru saja kami para unsur pimpinan merapatkan barisan untuk secepatnya bertindak memblokade agar tidak meluas”ujar Edi yang juga politisi asal PDIP ini.

Menurutnya, saat ini pihak kepolisian masih melakukan penyidikan di lokasi tersebut.”Pihak Polres dan di Back up oleh Polda Jatim sedang mengejar para pelaku  yang diperkirakan masih tidak jauh dari lokasi tersebut”terangnya.

Sekedar diketahui pada pukul 16.00 WIB sekelompok orang yang tak dikenal melakukan penyerbuan di lokasi pondok pesantren Pondok Pesantren Ma’hadul Islam di desa Kenep Kecamatan Beji, Bangil. Mereka melakukan penyerangan diduga pondok tersebut menjalankan ajaran Syiah yang selama ini dilarang di Indonesia.  Dalam penyerangan tersebut 9 orang santri mengalami luka-luka dan saat ini dirawat di RS Bangil. Sebelumnya kemarin dinihari, penyerangan juga terjadi ke YAPI Putri yang lokasinya tidak jauh dari YAPI Putra. Sejauh ini belum diketahui motif penyerangan itu. (Yudi)

dihimpun dari : seruu.com tribunnews.com, dan surabaya.detik.com

Penyerangan Ponpes YAPI, Karena Perbedaan Pandangan Syiar Islam ?

Motif Penyerangan Ponpes di Pasuruan Masih Belum Diketahui

Pelaku maupun motif penyerangan Ponpes Al Ma'hadul Islam Yayasan Pesantren Islam (YPAI) di Bangil Pasuruan masih buram. Polisi masih melakukan penyelidikan.

"Sekarang ini kita masih melakukan penyelidikan," kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Pudji Astuti saat dihubungi detiksurabaya.com, Selasa (15/2/2011).

Pudji mengatakan, sampai saat ini pihaknya belum mendapatkan laporan dari Polres Pasuruan tentang perkembangan penyelidikan yang dilakukan di lapangan. "Belum ada informasi, masih kita selidiki," terangnya.

Seperti diberitakan, ratusan massa yang tidak dikenal mengenakan sarung sambil mengendarai sepeda motor menyerbu dan melempari ponpes dengan batu, sekitar pukul 14.00 WIB.

Saat ini, polisi dari Polres Pasuruan dan di-backup 2 Kompi Brimob Polda Jatim, sudah mengembalikan situasi kembali kondusif. Akibat penyerangan oleh massa tak dikenal itu, 9 santri menderita luka-luka. (gik/gik)

Ustad Mukmin: Penyerang Berbeda Pandangan dengan Syiar Kami

Pengurus Pondok Pesantren Al Ma'hadul Islam Yayasan Pesantren Islam (Yapi) di Desa Kenep, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Ustadz Mukmin mengatakan santri dan satpam setempat sempat terlibat baku hantam dengan massa tak dikenal yang menyerang pesantren tersebut.

"Kan ada satpam di sini, terus para santri sedang main bola. para penyerang sekitar 100 orang dengan mengendarai motor langsung masuk ke dalam pesantren dan melempari batu," katanya kepada tribunnews.com, Selasa (15/2/2010).

Ustadz Makmun menambahkan baku hantam tersebut tidak berlangsung lama. Ia memperkirakan waktu baku hantam hanya terjadi sekitar 15 menit, yang terjadi sekitar pukul 14.30 WIB.

Akibatnya, imbuh Makmun, saat ini ada empat antri dan dua satpam yang menjadi korban. Mereka mengalami luka-luka di bagian kepala, kaki, serta memar-memar akibat lemparan batu dan baku hantam dengan penyerang tersebut.

Saat ditanya siapa pelaku di balik penyerangan ini, ia mengaku tak mengetahuinya. Makmun hanya menyangka bahwa para penyerang adalah orang-orang yang berbeda pandangan dengan syiar yang dijalankan oleh pesantrennya.

Pengurus YAPI: Kami Dituduh Sesat

Penyerangan Pondok Pesantren Al Ma'hadul Islam Yayasan Pesantren Islam (YAPI) di Desa Kenep, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur oleh kelompok massa tak dikenal memunculkan dugaan motif penyerangan dari pengurus pesantren itu.

Ustadz Mukmin satu di antara pengurus pesantren kepada Tribunnews.com menyebut dugaan adanya sekelompok orang yang tak suka pada ajaran yang dipraktekkan oleh pesantren ini. Bahkan, imbuhnya, ia kerap mendengar ajaran pesantren yang berdiri pada tahun 1976 ini adalah sesat.

Ia mengatakan, perbedaan aliran itulah yang kemungkinan menjadi motif penyerangan.
"Kami menganut paham yang berbeda dari mayoritas di sini. Kami berbeda pendapat (soal syiar). Mereka menuduh kami sesat," ungkap kepada Tribunnews.com, Selasa (15/2/2010) malam.

Hal ini diperparah dengan kemungkinan adanya provokasi dari kelompok yang mempunyai kepentingan untuk menggalang massa agar melakukan penyerangan.
"Ini bisa saja dilakukan oleh orang-orang yang ga suka dengan kita. lalu memprovokatori orang untuk menyerang," ungkapnya.

Dirangkum dari  surabaya.detik.com dan tribunnews.com

Kamis, 03 Februari 2011

Naik Haji Berkali-Kali atau Dermawan ?

Bagi umat muslim naik haji merupakan ibadah wajib sekali seumur hidup. Namun itu bagi yang mampu. Yang tidak mampu maka kuwajiban itu belum terkena padanya. Berbahagialah bagi siapapun yang mampu menunaikan ibadah haji. Dengan syarat ikhlas karena Allah.

Ya tentu harus karena Allah semata. Bukan karena ingin dipanggil pak Haji. Bukan karena ingin 'ngelencer' ke Mekah. Bukan pula karena ingin memamerkan harta kekayaannya. Bukan juga karena latah, ikut-ikutan karena para tetangga sudah banyak yang menunaikan ibadah haji.

Sementara ada segelintir manusia yang diberi kelebihan harta oleh Allah. Bagus juga. Tiap tahun menjalankan haji. Tiap tahun umroh. Sayang, tetangga yang lapar tidak dipedulikan. Sayang anak yatim tidak disantuni. Sayang anak cerdas namun miskin tak disekolahkan.

Sayang seribu kali sayang. Karena ada kisah seorang yang kaya mendapat kemuliaan dari Allah. Bukan karena kekayaannya. Tetapi karena kedermawanannya. Bahkan ada kisah tentang seorang ulama yang sangat dermawan. Beliau tidak bisa pergi haji karena bekal berhaji habis untuk membantu orang miskin. Namun diluar dugaan. setelah musim haji usai, banyak tamu datang menyatakan ingin bersilaturahim karena merasa habis menjalankan haji bersama-sama. Padahal ulama tersebut tidak merasa naik haji. Bukankah itu pertanda dari Allah bahwa justru 'hajinya' diterima. Walaupun haji secara badaniah tak terlaksana.

Karena itu menjadi pertanyaan bagi sebagian orang yang tiap tahun pertgi haji dan umroh. Bukankah haji itu waji sekali saja dalam seumur hidupnya. Bukankah lebih bermanfaat (bagi dirinya) dan juga bagi orang lainkalu biaya itu disumbangkan untuk mengentas kemiskinan. Ibaratnya kalu dia pergi haji berkali-kali maka dia hanya ingin masuk sorga sendirian. Tetapi menjadi drmawan itu sama dengan ingin masuk sorga bersama-sama. Bagaimana pendapat Anda ? 

Sumber http://tiknan.blogspot.com

Senin, 17 Januari 2011

Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme Refleksi Dari Ketidaktertiban Sosial


Written By : Dwi Haryadi, S.H.,M.H.

Bagaimana bila suatu saat mereka bisa menduduki jabatan stategis dan basah. Jadi mereka tinggal meningkatkan kreativitasnya untuk korupsi. Intinya adalah masalah kesempatan saja, yang berarti produk undang-undang dan aplikasinya hanyalah tindakan pemberan

Bagaimana bila suatu saat mereka bisa menduduki jabatan stategis dan basah. Jadi mereka tinggal meningkatkan kreativitasnya untuk korupsi. Intinya adalah masalah kesempatan saja, yang berarti produk undang-undang dan aplikasinya hanyalah tindakan pemberantasan dan bukan pencegahan (preventif).

Perkara Korupsi, Kolusi dan nepotisme yang banyak menimpa para pejabat, baik dari kalangan eksekutif, yudikatif maupun legislatif menunjukkan tidak hanya mandulnya Undang-undang Nomor 28 tahun 1999, tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan nepotisme, tetapi juga semakin tidak tertibnya nilai-nilai kehidupan sosial masyarakat. Kasus korupsi yang diduga melibatkan para menteri, mantan menteri, gubernur, mantan gubernur, bupati, mantan bupati dan lain sebagainya menunjukkan bahwa para pejabat negara yang diharapkan menjadi tauladan bagi masyarakat luas mengenai tertib hukum dan tertib sosial, ternyata justru mereka yang harus duduk dikursi pesakitan dengan tuntutan tindak pidana korupsi. Kasus Bulog dan kasus dana non bugeter DKP yang begitu kusut hanyalah sedikit dari sekian banyak perkara korupsi di negara yang berupaya mewujudkan good goverment and clean goverment sebagai salah satu cita-cita reformasi.
Mundurnya presiden Soeharto dari kursi kekuasaannya selama 32 tahun menjadi langkah awal dari reformasi disegala bidang baik itu ekonomi, politik, hukum, sosial dan budaya serta yang terpenting adalah pintu demokrasi harus dibuka lebar-lebar dengan harapan bangsa ini akan memiliki masa depan yang lebih baik. Namun sayang impian itu tidak sepenuhnya terpenuhi, lamban bahkan sebagian kebobrokan itu menjadi meningkat drastis secara kualitas maupun kuantitasnya. Salahsatu bagian dari kebobrokan itu adalah praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Praktek KKN ini merupakan salahsatu penyakit akut yang terjadi dimasa orde baru yang mengakibatkan sistem ekonomi, politik, kekuasaan dan lapisan birokrasi berasaskan kekeluargaan yaitu kekuasaan hanya berputar pada kalangan terbatas saja yaitu anggota keluarga dan teman dekat saja.
Semangat dan upaya pemberantasan korupsi di era reformasi ditandai dengan keluarnya berbagai produk perundangan-undangan dan dibentuknya institusi khusus, yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi. Harapan terhadap produk-produk hukum diatas adalah praktek Korupsi sebelum reformasi dapat dibawa kemeja hijau dan uangnya dikembalikan pada negara, sedangkan pada pasca reformasi dapat menjadi suatu usaha preventif. Namun apa yang terjadi dilapangan tidaklah sesuai yang diharapkan. Beberapa kasus korupsi dimasa orde baru ada yang sampai kemeja hijau. Walau ada yang sampai pada putusan hakim tapi lebih banyak yang dipetieskan atau bahkan hanya sampai pada penyidik dan Berita acara perkaranya (BAP) mungkin disimpan dilemari sebagai koleksi pribadi pengadilan. Kemudian timbul pertanyaan bagaimana hasilnya setelah pasca reformasi? Jawabannya adalah sama saja walaupun sebenarnya dimasa presiden Susilo Bambang Yudoyono genderang perang terhadap korupsi sudah menunjukan beberapa hasilnya, kalau tidak mau disebut jalan ditempat.
Beberapa kasus besar memang telah sampai pada putusan pemidanaan dan berkekuatan hukum tetap. Tapi perkara korupsi ini bukanlah monopoli dari kalangan elit tapi juga oleh kalangan akar rumput walaupun kerugian yang ditimbulkan sedikit. Pertanyaan selanjutnya? Bagaimana bila suatu saat mereka bisa menduduki jabatan stategis dan basah. Jadi mereka tinggal meningkatkan kreativitasnya untuk korupsi. Intinya adalah masalah kesempatan saja, yang berarti produk undang-undang dan aplikasinya hanyalah tindakan pemberantasan dan bukan pencegahan (preventif). Korupsi ternyata bukan hanya masalah hukum tapi juga budaya, kebiasaan dan kesempatan, moral dan agama. Sehingga menjadi suatu kesalahan besar ketika kita mengatakan bahwa korupsi bisa diberantas sampai keakar-akarnya bila yang dilakukan hanyalah sebatas pemenuhan kebutuhan yuridis. Karena realitasnya semakin banyak peraturan justru korupsi semakin meningkat. Indonesia merupakan negara yang berprestasi dalam hal korupsi dan negara-negara lain tertinggal jauh dalam hal ini.
Bahkan yang lebih menggelikan lagi ada kalimat yang sudah menjadi semacam slogan umum bahwa Indonesia negara terkorup tapi koruptornya tidak ada. Sepertinya ini sesuatu yang aneh yang hanya dapat terjadi di negeri antah barantah. Selain korupsi, dua kata yang dikaitkan dengannya adalah kolusi dan nepotisme juga merupakan tindak pidana. Tapi apakah selama ini ada perkara yang terkait dengan hal itu.
Muncul pertanyaan apakah dimasukannya dua tindak pidana tadi hanya sebagai produk untuk memuaskan masyarakat saja? Atau memang bertujuan melakukan pemberantasan terhadap kolusi dan nepotisme yang telah masuk kedalam stuktur masyarakat dan struktur birokrasi kita? Kenapa UU No.28/1999 tidak berjalan efektif dalam aplikasinya? Apakah ada error criminalitation? Padahal proses pembuatan suatu undang-undang membutuhkan biaya yang besar dan akan menjadi sia-sia bila tidak ada hasilnya. Dimana sebenarnya letak kesalahan yang membuat tujuan tertib hukum ini justru meningkatkan ketidaktertiban hukum.
Dizaman dimana hukum positif berlaku dan memiliki prinsip asas legalitas yang bertolak pada aturan tertulis membuat hukum dipandang sebagai engine solution yang utama dalam mengatasi banyak permasalahan yang muncul dimasyarakat. Namun dalam realitasnya ternyata hukum hanya sebagai obat penenang yang bersifat sementara dan bukan merupakan upaya preventif serta bukan juga sebagai sesuatu yang dapat merubah kebiasaan dan budaya negatif masyarakat yang menjadi penyebab awal permasalahan.
Permasalahan pokok yang menyebabkan ketidaktertiban hukum ini adalah karena adanya ketidaktertiban sosial. Bila bicara masalah hukum seharusnya tidak dilepaskan dari kehidupan sosial masyarakat karena hukum merupakan hasil cerminan dari pola tingkah laku, tata aturan dan kebiasaan dalam masyarakat. Namun sangat disayangkan hukum sering dijadikan satu-satunya mesin dalam penanggulangan kejahatan dan melupakan masyarakat yang sebenarnya menjadi basis utama dalam penegakan hukum. Jadi jelas bahwa aspek sosial memegang peran yang penting dalam upaya pencegahan kejahatan yang tentunya hasilnya akan lebih baik karena memungkinkan memutus matarantainya.
Praktek korupsi seakan menjadi penyakit menular yang tidak ditakuti seperti halnya flu burung. Adakalanya disebabkan karena pemenuhan kebutuhan seperti yang dilakukan oleh pegawai rendahan, tapi ada juga yang karena pengaruh budaya materialistis menumpuk kekayaan seperti koruptor-koruptor dari kalangan pejabat tinggi yang kehidupannya sudah lebih dari "mewah". Karena adanya pemerataan korupsi maka tidak salah kalau orang mengatakan bahwa korupsi sudah menjadi bagian dari budaya bangsa Indonesia. Artinya pokok permasalahan dari korupsi adalah bagaimana pola pikir masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi ? Apakah dilatarbelakangi budaya materi dengan menumpuk kekayaan atau secukupnya sesuai kebutuhan dan bila berlebih akan disalurkan bagi yang membutuhkan sebagaimana ajaran agama dan etika moral.

Hal ini berarti bicara bagaimana pola tingkah laku, peresapan ajaran agama, moralitas dan hal-hal lain yang mempengaruhi mental seseorang. Begitu pula halnya dengan kolusi dan nepotisme yang akar permasalahannya terletak pada kekalahan dari idealisme sosial yang berisi nilai-nilai yang dapat menciptakan keteraturan dalam masyarakat. Kolusi dan nepotisme telah menjadi kebiasaan dalam struktural masyarakat kita. Hal ini bisa kita amati dalam kehidupan sehari-hari. Pekerjaan merupakan barang yang mahal saat ini. Tapi untuk sebagian orang yang melewati jalan belakang ini sangatlah mudah. Misalnya cukup dengan membayar sejumlah uang dalam jumlah besar atau dengan membawa surat sakti dari "orang kuat" atau melobi keluarga dekat yang berada dalam struktur lapangan kerja yang diinginkan. Bila ini diimbangi dengan kualitas yang bagus tidak masalah, walaupun rasa keadilan tetap masih ternodai. Tapi kalau kualitasnya jelek, ini sama saja dengan menempatkan orang yang bukan ahlinya yang kelak justru akan menambah pada kehancuran. Parahnya hal ini seakan telah menjadi prosedural bukan saja diinstitusi swasta tapi juga di pemerintahan.
Pertanyaan berikutnya, apa ada jaminan pelaku tersebut dijerat oleh hukum? Atau justru lepas dan ia akan terus membina kondisi ini dan akan terjadi regenerasi terus-menerus. Lalu apakah masyarakat akan menentang jalur-jalur belakang ini atau justru lahir sikap pembiaran karena ternyata juga telah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat saat ini. Jadi jelaslah bahwa upaya preventif dari pemberantasan KKN adalah dengan menciptakan tertib sosial dalam arti adanya tertib nilai-nilai yang harus diaplikasikan dalam struktur masyarakat. Dengan berubahnya pola tingkahlaku yang sesuai dengan nilai-nilai keadilan, agama dan etika moral akan lebih efektif dibandingkan hanya dengan aplikasi Undang-undang saja. Jadi perlu adanya keseimbangan antara tertib sosial dan tertib hukum untuk dapat mencapai reformasi yang mensejahterakan masyarakat.
Sumber: http://www.ubb.ac.id/

Senin, 06 Desember 2010

Berawal dari Hilangnya Rasa Kebersamaan

….nusa bangsa
….dan bahasa
….kita bela “bersama”.
.

….”kita bela bersama”….itulah salah satu kutipan dari syair lagu nasional kita yang berjudul Satu Nusa Satu Bangsa. Tentunya, kita sudah tidak asing lagi dengan lagu tersebut. Ya, saya pun sejak duduk disekolah dasar hingga sekolah menengah atas, setiap hari senin terkadang menyanyikan lagu tersebut saat upacara bendera. Esensi lagu tersebut ialah sebuah wujud dari konsensus kita bersama—seluruh warga negara Indonesia. Untuk bersama-sama dalam membela nusa bangsa, bahasa, dan segala apa yang ada di naungan Garuda Pancasila. Tapi, ketika akhirnya saya harus menghujamkan pandangan kekehidupan sehari-hari, kondisi Indonesia kini, rasanya lagu hanyalah lagu, tiada efeknya. Sedih dan sakit rasanya hati ini jika terus memandang kondisi bangsa saat ini, hingga pada akhirnya sesekali—atau bahkan sering. Saya mengarahkan pandangan kelangit nan luas.
.
.
.
Saya sangat prihatin atas kehidupan berbangsa di negeri ini yang semakin meminggirkan kebersamaan. Banyak gejala dalam masyarakat yang menampakkan bagaimana sebuah bangsa yang menyebut secara eksplisit keadilan sosial dalam ideologi Pancasila-nya, seolah tak menghiraukan lagi istilah kebaikan bersama.
.
Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
(Pancasila, Sila Kelima)
.
.
dalam kesempatan ini, saya tidak bermaksud mengkritisi pemerintah secara khusus, disini saya lebih menekankan kepada kita—warga masyarakat Indonesia. Bagi pemerintah tentunya, pelaksanaan sila kelima dalam Pancasila ialah suatu kewajiban yang mesti diupayakan pelaksanaannya. Dan kita sebagai rakyat juga wajib mengawasi jalannya roda pemerintahan.
.
.
.
Dan kali ini
Saya mengajak seluruh kita sebagai warga negara Indonesia untuk instropeksi diri. Sejenak kita lupakan pemerintahan! Dimuka sudah saya sampaikan bahwa saat ini rasa atau sense kebersamaan sebagai suatu bangsa yang harus saling membantu, bahu-membahu antar sesama sudah mulai hilang—bisa jadi pula memang sudah hilang. Misalnya, Korupsi disegala lini kehidupan masyarakat adalah contoh telanjang tiadanya rasa kebersamaan berbangsa itu. Marilah kita coba melihat kedalam diri kita masing-masing, masihkan kita sebagai sebuah bagian dari bangsa mengutamakan kepentingan umum? Ataukah kepentingan pribadi jauh berbobot? Tidak usah terlalu jauh, kita lihat dalam keluarga sebagai pembentuk masyarakat. Apakah seorang ayah, ibu, anak, mementingkan keadilan bersama atau hanya sebagai keadilan bagi pribadinya masing-masing. Misalnya, kita sebagai anak dalam sebuah keluarga memiliki beberapa saudara kandung, pernahkah kita mempertimbangkan mereka saudara-saudara kita dalam hal memutuskan sesuatu agar hasilnya dapat atau setidaknya menyenangkan hati bersama. Bagi saya pribadi, menciptakan keadilan dan rasa kebersamaan dalam keluarga itu memang tidak mudah. Tapi, yakinlah jika kita sudah memulai dari diri kita sendiri, dan dari institusi terkecil—keluarga. Niscaya diluar kita pun akan lebih mementingkan rasa kebersamaan, tentunya dalam hal kebaikan.
.
.
.
Segala bentuk upaya pemerintah untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, bagi saya akan sia-sia belaka, jikalau masyarakatnya sendiri sudah atau sengaja menghilangkan rasa kebersamaan—erat kaitannya dengan sila ketiga, persatuan Indonesia. Mari, kita bantu Pemerintah, mewujudkan persatuan yang utuh. Jikapun pemerintah melenceng, jika kita bersatu padu secara utuh, niscaya dalam hal perlawanan—jika mengharuskan demikian. Kita akan berhasil. Mulailah, untuk mempertimbangkan nilai-nilai kebersamaan, agar lebih kita utamakan.
.
.
Misalnya,
Dalam kita berkendaraan, janganlah kita ugal-ugalan, serempet sana serempet sini, tidak memakai sarana pengaman standar, tidak taat aturan lalu lintas, itu sudah menunjukkan bahwa Anda pengendara yang sudah kehilangan rasa kebersamaan. Jalan itu milik bersama, dan ketertiban itu lebih utama. Saya semakin prihatin jika harus pergi kekota besar, para pengendara banyak yang tidak taat lalulintas, hingga jika saya lihat, polisi lalulintas pun terkesan cuek. Apakah seperti ini budaya masyarakat Indonesia, yang katanya, ramah-ramah, baik hati, dan sebagainya. Atau itu semua kini hanyalah jargon-jargon penuh kebohongan, sebagaimana pernah terjadi di era orde baru. Banyak jargon-jargon soal Pancasila, ternyata realisasi dari jargon tersebut tidak ada. Misalnya lagi,  sekarang ini banyak masyarakat menyuarakan selogan bersama dan bermaksud mengajak supaya “Anti Korupsi”. Jika saya harus katakan, selogan “Anti Korupsi” bukan untuk kita katakan kepada orang lain—bukannya tidak boleh. Tapi untuk ditanamkan dalam sanubari yang paling dalam dari diri kita sendiri, untuk Anti Korupsi disegala lini kehidupan yang kita jalani. Sifat korup sejatinya bibitnya itu ada dalam diri manusia, tapi kembali lagi kepada kita, apakah kita merawat dan menyirami bibit nista tersebut atau tidak. Segeralah kita mulai menjadi pribadi yang menjadi bahan cerita  inspirasi atau teladan baik bagi sesama.
.
.
.
Mari coba kita renungi kata-kata yang berbunyi : “Jangan tanya apa yang Negera berikan padamu, tapi tanyalah apa yang sudah kamu berikan pada Negera”. Sudah tugas Negara memberikan yang terbaik bagi rakyatnya, tapi pernah terpikirkah sekarang ini, bahwa kita sebagai rakyat juga bertugas memberikan yang terbaik bagi Negara. Semuanya itu, satu kesatuan. Dan segala bentuk kebobrokan, kemiskinan, pengangguran, dan belum selesainya segudang permasalahan yang memekakan telinga. Ialah berawal dari hilangnya rasa kebersamaan, baik dalam tatatan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.
.
….nusa bangsa
….dan bahasa
….kita bela “bersama”
 
Akses : http://degoblog.wordpress.com/

Kasih Sayang, Pengorbanan dan Solidaritas antar Sesama manusia

Bagi saya pribadi, bisa memberikan ASI ekslusif 6 bulan kepada bayi memiliki
makna yang luas, bukan semata-mata memberikan asupan yang terbaik untuk bayi
atau terciptanya bonding (ikatan batin) yang kuat antara ibu dan bayi,
tetapi lebih dari itu. Dari ASI, saya mendapatkan pelajaran hidup yang
sangat berharga, membuat saya lebih bisa memaknai hidup, serta lebih
mensyukuri nikmat dan karunia Maha Pencipta.

Salah satu dari sekian banyak yang pernah saya lalui bersama ASI adalah
cerita perjuangan Mba Kemijem, saya punya alasan kenapa cerita Mba Kemijem
yang saya angkat kali ini, karena dalam cerita ini betapa banyaknya Mba Kemi
(nama panggilan Mba Kemijem) menghadapi rintangan dengan segala
keterbastasan yang dimilikinya, ia tidak pernah menyerah, dalam cerita ini
teman-teman di uji rasa solidaritas dan keikhlasan kami ketika membantu Mba
Kemi.

Mba Kemi adalah seorang buruh pabrik yang pada waktu itu sedang hamil anak
kedua, orangnya tidak banyak bicara, setiap mengikuti kelas asi di musola
hanya diam mendengarkan saya membaca artikel tentang ASI. Suatu hari saya
tembak dia dengan bertanya mengenai rencana Mba Kemi melahirkan bayinya.
Jawabannya saat itu adalah "saya belum tau, sepertinya saya akan melahirkan
di Jawa Tengah kampung halaman saya, dan saya akan menitipkan bayi saya pada
orang tua saya di kampung ketika nanti cuti melahirkan habis. Sebab untuk
melahirkan di sini tidak memungkinkan, nanti setelah saya masuk kerja siapa
yang akan mengurus bayi saya"

Mendengar jawaban Mba, saya bertanya lagi, "Apa Mba ngak kepengen memberikan
bayinya ASI Ekslusif ?" Mba hanya tersenyum menanggapi pertanyaan saya.
Sejak saat itu saya mulai berfikir keras bagaimana caranya supaya bisa
membantu si Mba agar mau berjuang memberikan ASI Ekslusif u bayinya. Saya
ngak banyak memaksa mba, saya cuma mengajak dia untuk rajin datang ke musola
sama-sama belajar tentang ASI. Saya membayangkan bagaimana jika saya berada
diposisi mba dengan segala keterbatasannya, saat itu yang bisa saya lakukan
adalah berusaha membangkitkan semangat Mbak Kemi untuk mau "berjuang" demi
ASI. Alhamdulillah Mba rajin sekali hadir di musola, sesekali saya tanya
"Mba artikel asinya, suka di baca ngak di rumah ?", Mba menjawab "Sering bu,
malah kalo saya cape suami saya yang membacakan artikel tsb untuk saya".
Dalam hati saya bersyukur sekali mendengar jawabannya, berarti sudah ada
kemauan dari Mba dan suaminya.

Hari-hari pun berlalu, sesekali saya lontarkan pertanyaan pada mba tentang
rencana melahirkan bayinya, jawabannya masih sama dengan jawaban peratama.
Ketika kehamilannya semakin besar ada perkembangan yang mengejutkan akhirnya
mba mulai berubah pikiran, mba berniat melahirkan di Rancaekek tempat Mba
dan Suaminya bermukim saat itu.

Namun ternyata persoalannya tidak semudah itu, kendala yg dihadapi oleh mba
adalah pertama dia harus mencari pengasuh bayinya, yang kedua adalah
kontrakan tempat tinggal mba tidak memiliki daya listrik yang cukup untuk
menyalakan sebuah kulkas dan memiliki daya listrik yg kecil yaitu 225 watt,
dipakai untuk menyalakan tv, lampu, akuarium , radio, rice cooker dll maka
kalo kalo ditambah kulkas tidak akan kuat alias pasti ngejepret.

Mendengar hal tsb saya menarik napas panjang dan sekali lagi memahami
kondisi mba sambil ikut berpikir mencarikan solusi. Untuk persoalan pertama
mengenai pengasuh bayinya, Mba dan suaminya berusaha mencari, ada yang
bersedia tapi bayinya di asuh di rumah yang ngasuh bukan di rumah Mba Kemi,
yah apa boleh buat daripada ngak ada sama sekali yang ngasuh bayinya selama
di tinggal ibu bapaknya kerja. Satu masalah selesai, persoalan berikutnya
adalah tempt penyimpanan ASI yaitu kulkas. Saya menyarankan bagaimana
dititip di tetangga, ya coba deh PDKT sama tetangga siapa tau ada yang
bersedia dititipi ASI perah di frezzer kulksnya. Ternyata tetangga-tetanggs
nya pun tidak memiliki kulkas. Berarti harus cari jalan lain untuk menyimpan
stok ASI.

Di dalam kumpulan artikek ASI yang saya bagikan pada temen2 pabrik, ada
tulisan dr Utami Roesli, bahwa tidak memiliki kulkas tidak menghalangi
seorang ibu bekerja untuk tidak bisa memberikan ASI ekslusif 6 bulan pada
bayinya. Dan kebetulan juga ada seorang teman pabrik pernah mempraktekan
menyimpan ASI di termos ketika dia dan bayinya harus menginap beberapa hari
di kontrakan suaminya yang tidak ada kulkas. Saya, Mba Kemi dan teman
lainnya jadi ikut sama-sama belajar tips-tips menyimpan stok ASI dalam
termos. Saya optimis insya allah masalah ngak punya kulkas sudah bukan
menjadi kendala Mba Kem. Selanjutnyauntuk memotivasi mba, saya berburu
tulisan ibu2 menyusui dengan berbagai kendala yang harus mereka hadapi tapi
tetap bisa lulus ASIX.

Akhirnya Mba Kemi mulai masuk masa cuti, hari-hari terakhir bertemu Mba di
musola, Mba dan suaminya sudah bertekad bulat untuk melahirkan di Rancaekek.
Terharu rasanya, saya jadi bangga dan kagum pada mereka yang mau berjuang
demi ASIX. Pesan terakhir saya "Mba kalo ada apa-apa jangan sungkan-sungkan
untuk hubungi saya, mudah2an saya bisa bantu".

Wassalam,

Dinny

Sebulan kemudian saya mendapat kabar dari suami Mba bahwa Mba sudak
melahirkan bayi laki-laki dengan operasi caesar di RS terdekat, Mba dan si
bayi sehat walafiat, alhamdulillah. Namun saya mendapat kabar buruk, yaitu
mba tidak di beri kebebasan oleh petugas RS untuk menemui dan menyusui
bayinya dengan alasan karena Mbak melahirkan caesar. Segera setelah
mendengar kabar tersebut saya sharing dengan teman-teman dan Tim Klasi
Bandung (Dinny dan Linda). Mendengar kabar ini Linda dan Dinny tergerak
hatinya untuk mengunjungi Mba Kemi di RS. Karena pada waktunya itu kita
sedang sibuk-sibuknya di kantor masing-masing, kita baru bisa mengunjungi
mba keesokan harinya.

Lokasi tempat kami kerja dengan rumah sakit lumayan jauh, Linda berangkat
dari Dago dan Dinny dari Ujung berung, kalo saya sih masih keitung dekat.
Kami bertiga tiba di RS dan menemui Mba, mendengarkan cerita Mba dipersulit
oleh petugas RS untuk bisa bertemu dan memberikan ASI pada bayinya, kemudian
kami bertiga berusaha mencari tau bagaimana fakta yang sebenarnya dengan
bertanya kepada beberapa petgas yang sedang berjaga saat itu. Rupanya
memberikan ASIX belum menjadi prosedur utama di RS tsb, lalu kami menemui
manajemen RS, berusaha menyampaikan keluhan dan keinginan kami, mba pun
diberi kemudahan untuk bisa menemui dan menyusui bayinya. Setelah urusan
selesai kami kembali ke tempat kerja kami, di luar RS saat itu hujan deras,
Dinny sedang hamil besar berdua Linda kembali ke Bandung naik angkot, salut
pada Dinny dan Linda yang mau jauh2 datang untuk memberikan support pada Mba
Kemi, terima kasih teman2

Alhamdulilah setelah kami mengunjungi RS, Mba bisa bebas bertemu bayinya,
meskipun kadang mba musti sedikit ngotot pada petugas. Semangat mba patut di
acungi jempol. Meskipun menemui kendala, mba ngak mudah putus asa, mba ngak
sungkan meminta bantuan pada kami, empat hari di RS akhirnya mba dan bayi
laki2nya diijinkan pulang, saya dan mba masih sering kontak lewat sms.

Hari-haripun berlalu, tak terasa mba sudah waktunya untuk masuk kerja lagi,
masalahnya mba ngak punya kulkas menyimpan stok asinya. Tetangga ngak ada
yang punya kulkas, mencari warung yang menjual es batu pun ternyata ngak
semudah yang dibayangkan (tadinya sayang pikir pasti banyak warung yang
menjual es batu dan bisa langganan beli es batu setiap hari) unttuk mencari
es batu, suaminya harus mencari kesana kemari dan akhirnya bisa dapat es
batu dari warung yang letaknya jauh dari kontrakannya.

Sampai disini kok jadi saya yang pesimis, namun rasa pesimis itu saya
singkirkan, dan tetap memberikan semangat pada mba dan suaminya. Mba dan
suami setiap hari sama-sama berjuang menghadapai segala macam kendala dan
keterbatasan demi ASI (mba harus ektra usaha memanage stok asi, suaminya
berburu es batu, mba yang buruh pabrik dengan jam kerja shift harus
meluangkan waktu di sela waktunya setiap 2 jam kerja memerah asi, sering
kali mba harus kejar-kejaran stok asi dll). Belum mba dan suami mendapat
cemoohan dari lingkungan sekitar yang tidak mendukung pemberian ASIX, bahkan
pengasuh bayinya pun sempet ngeyel untuk memberikan bayi mba susu formula
dan MPASI sebelum usia bayi 6 bulan.

Mba dan suami menghadapi berbagai rintangan yang cukup berat, namun mereka
pantang menyerah untuk terus berusaha memberikan ASIX pada bayi mereka. Dan
alhamdulillah sepanjang yang saya ikuti perkembangannya bayi mereka tumbuh
dengan sehat.

Lama tidak mendengar kabarnya, waktu itu saya sudah tidak bekerja dan sedang
repot-repotnya persiapan pindah rumah ke Jakarta. Tiba2-tiba saya mendapat
sms dari mba yang mengabari bahwa saat itu mba di diagnosa demam berdarah
dan harus di opname. Masalahnya stok asi untuk bayinya tidak cukup, mungkin
karena mba sakit jadi asinya kurang, hebatnya mba ngak menyerah dia tetap
memberikan asinya.

Saya ingat betul waktu itu hari kamis 2 juli 2009 dimana saya sedang ada
urusan dan masih ada beberapa yang belum beres untuk kepindahan rumah saya.
Tiba-tiba dapat sms lagi dari Mba, segela saya telepon balik, ternyata mba
sudah di opname, mba tetap memerah asinya (atas sepengetahuan dokter yang
merawatnya), tapi stoknya tidak cukup karena si bayi sedang rakus-rakusnya
minum Asi. Saat itu saya merasa tidak ada yang bisa saya perbuat, untuk
menolong mbak, akhinya saya menjelaskan bahwa dalam kondisi darurat ibu bisa
memberikan susu formula pada bayinya sebagai jalan terakhir. Tau ngak apa
tanggapan dari Mba Kemi "... tapi kalo bayi saya diberi susu formula sayang
bu, karena sebentar lagi lulus ASIX". Ya Allah mendengar tanggapan mba, pipi
saya serasa di tampar keras sekali, saya malu dan merasa egois sekali, dalam
kondisi begini hanya karena sedang sibuk dan tanpa mau berusaha berpikir
panjang membantu Mba Kemi, saya dengan entengnya menyarankan bayinya mba di
beri susu formuka. Padahal selama ini sejak awal mba hamil saya selalu
mendorong mba untuk berjuang demi asix. Saya lupa bisa menyusui anak kedua
saya sampai detik ini (2 tahun 2 bulan) juga karena dukungan dan bantuan
teman-teman saya. Masa kali ini saya ngak bisa apa-apa untuk membantu mba
yang benar-benar sedang membutuhkan pertolongan

Akhirnya tanpa pikir panjang saya tawarkan apakah mba mau menerima donor
asi, kalo mau syaa usahakan hari itu juga mencari donr asi dan kalo sudah
dapat akan segera saya antar ke RS, mba mau menerima donor asi. Segera saya
sebar pengumuman melalu sms ke teman2 saya untuk mencari donor asi,
alhamdulillah waktu itu dalam kondisi singkat dapat jawaban dari dinny bahwa
dia bersedia mendonorkan asinya.

10 botol ASI saya ambil di kantor Dinny (Dinny sempat ngambil botol2
tersebut di rumahnya). Dinny memang punya stok asi yang bisa didonorkan.
Padahal sebenarnya saat itu dinny juga sedang kejar-kejaran stok memenuhi
kebutuhan bayinya, subahanalloh saat itu keikhlasan kami sedang di uji saat
itu yang kami pikirkan hanya 1, bayi mba kemi tidak boleh kehabisan asi. Jam
12 asi donor dari dinny berhasil di antarkan dan sampai ke tangan suami Mba
Kemi. Alhamdulilalh lega sekali rasanya. Beberapa hari kemudian saya dapat
kabar mba sudah keluar dari RS. Mba mengucapkan terima kasih karena asi
donor dari dinny menyelamatkan bayinya dari sufor, alhamdulillah.

Waktu pun berlalu, saya pindah ke jakarta. Suatu sore saya mendapat telepon
dari suami mba, dia curhat bnyinya ngak mau menyusu ke ibunya, di beri dot
juga susah ngak mau sama sekalu minum asi, saya menyarankan untuk
menghentikan pemberian dot, diganti dengan menyuapi asi pakai sendok dan
untuk mengatasi supaya mau menyusu langsung ke payudara ibunya dicoba dengan
berbangai cara dengan kesabaran dan kasih sayang insya Allah bisa teratasi.

Setelah curhatan itu, saya ngak dapat kabar apa-apa lagi dari Mba Kemi
sampai tanggal 31 Juli 2009 saya dapat sms dari mba yang mengabarkan bahwa
bayinya sudah lulus asi ekslusif, subhanalloh alhamdullilan membaca sms Mba
Kemi mata saya berkaca-kaca mengingat beratnya cobaan yang harus di alami
Mba Kemi dan suami lalui, oh iya alhamdullilah bayinya sudah mau menyusu
langsung ke ibunya.

Rasa syukur dan bangga sekali pada mba dan suami. Bravo mba. Dalam smsnya
mba menuliskan kata-kata " betul ya bu, kalau kita mau usaha dan berdoa
ternyata bisa dan Allah selalu memberikan jalan untuk kita" iya mba, allah
memang memberikan jalan karena mba dan suami tidak mau menyerah pada
keadaan..

Dari cerita perjuangan Mba Kemi, saya mendapat pelajaran hidup, asi telah
menyeret hati nurani saya untuk selalu berbagi dan berusaha sekuat tenaga
untuk membantu sesama ibu yang ingin bisa menyusui bayinya.

Ketika bertemu dengan ibu yang mengalami kesulitan memberikan asi, kita
harus berada di pihaknya, berusaha mengerti dan memahami apa saja kesulitan
yang sedang dihadapi, dukungan yang besar dari lingkungan sangat berarti
untuk ibu sedang mengalami kesulitan menyusui (itu lah yang saya rasakan).

Bagi ibu yang sampai saat ini masih menemukan kendala dalam memberikan asi
pada bayinya berusahalah ibu, jangan menyerah berkacalah pada kisah
perjuangan Mba Kemijem yang tetap berjuang pantang mundur menghadapi
berbagai rintangan dengan buah cintanya.

Menjadi seorang ibu adalah perkerjaan yang mulia meskipun mengemban tugas
yang berat memelihara, menjaga dan merawat anak2nya, Tuhan telah memilih
kita untuk menjalaninya jalanilah dengan penuh kesabaran keihlasan dan
cinta.

Akhir kata mudah-mudahan tulisan ini bisa menggugah hati kita semua yang
saling peduli dan berjuang pantang menyerah agar bayi-bayi bisa mendapatkan
haknya yaitu asi.

Ira Indiana - Tim KLASI BANDUNG
http://santob.multiply.com/

Solidaritas Antar Sesama

Sehari-hari dengan mudah kita melihat dan sekaligus mendapatkan pelajaran hidup dari dua jenis binatang serupa, tetapi memiliki perilaku yang sangat berbeda, yaitu lebah dan lalat. Lebah hidup dengan solidaritas yang amat tinggi antar sesama lebah. Hal itu berbeda dengan lalat. Lebah memiliki organisasi yang sedemikian rapi dan kokoh. Sedangkan lalat, organisasi itu sama sekali tidak dikenalnya. Lalat hidup secara individual, dan tidak pernah mengenal satu dengan lainnya.

Kehidupan lebah tersusun atas organisasi dan pembagian tugas yang jelas dan rapi. Masing-masing kelompok lebah memiliki tugas masing-masing. Sebagian lebah bertugas menjaga keamanan, sebagian lainnya bertugas mencari makan, membuat rumah, sebagian bertelor, dan juga lainnya menjadi pejantan. Masyarakat lebah dipimpin oleh seekor ratu lebah. Semua lebah loyal penuh terhadap pimpinannya, sepanjang pimpinannya itu masih konsisten dengan tata aturan organisasinya.

Lebah dalam hidupnya selalu memberi manfaat bagi lainnya dan tidak pernah membuat kerusakan. Binatang ukuran kecil bersayap enam ini mencari makan berupa madu. Oleh karena itu mereka beterbangan dari bunga satu ke bunga lainnya untuk mencari makan. Bulu kakinya yang lebut memberi manfaat bagi proses terjadinya pembuahan.

Dari kehidupan lebah, bisa diambil pelajaran lainnya yaitu siolidaritas antar sesamanya yang semikian tinggi. Jika terdapat seekor lebah yang diganggu hingga mati, maka lebah lainnya akan membela hingga titik darah penghabisan. Lebah-lebah tersebut akan menyerang dengan menyengatnya. Padahal jika jarum sengatan itu putus, -----dan selalu putus jika digunakan untuk menyengat, maka lebah itu akan segera mati.

Keindahan sifat lainnya, lebah tidak pernah membuat kerusakan. Andaikan binatang penyengat ini hinggap di ranting yang lembek dan lapuk sekalipun, ranting itu tidak akan putus. Lebah hidupnya selalu memberi manfaat bagi lainnya. Madu yang diambil dari sarang lebah sangat bermanfaat untuk kesehatan dan juga obat maupun lainnya.

Berbeda dengan lebah adalah lalat. Binatang ini selalu gemar dengan benda-benda kotor, jorok, dan berbau. Mereka selalu berkerumun di tempat-tempat seperti itu. Organisasi dan solidaritas tidak dikenal pada kehidupan lalat. Bahkan jika antar lalat bertemu, selalu saling mematuk. Jika terdapat temannya mati, dengan sebab apa saja, disambut gembira. Bangkainya akan diperebutkan untuk dimakan.

Jika lebah selalu memberi manfaat, maka lalat sebaliknya. Bulu kakinya yang kasar, membawa penyakit dari satu tempat ke tempat lainnya. Oleh karena itu, orang selalu hati-hati dengan makanan yang telah dihinggapi oleh lalat, khawatir terkena penyakit yang dibawa melalui kaki lalat itu.

Mengamati dua jenis binatang tersebut ------lalat dan lebah, kita akan mendapat pelajaran yang sangat berharga. Melalui kehidupan binatang itu, rupanya Tuhan akan memberikan pelajaran, agar manusia memilih dari dua jenis cara kehidupan itu. Pilihan pertama adalah kehidupan lebah, yaitu selalu hinggap pada tempat-tempat indah, wangi, selalu memberi manfaat, memiliki solidaritas yang tinggi antar teman, hidupnya terorganisasi secara rapi dan kokoh.

Sebaliknya dengan lebah, adalah lalat. Binatang itu tidak memiliki solidaritas sama sekali. Antar sesama kawan saling bermusuhan, mereka selalu berada pada tempat yang jorok, dan hidupnya selalu menyebar penyakit. Orang melihat lalat selalu merasa jijik, khawatir binatang tersebut membawa kotoran dan penyakit. Orang selalu mengamankan makanan dari binatang ini dengan cara menutup rapat-rapat.

Mudah-mudahan kita semua berhasil memetik pelajaran dari kedua jenis kehidupan binatang ini. Ternyata sedemikian tinggi kasih sayang Allah, memberikan pelajaran kepada makhluknya yang paling dimuliakan, yaitu manusia, melalui kehidupan binatang kecil, sederhana, dan selalu ada di sekitar kita. Semogalah, hidup kita semua menjadi yang terbaik, mampu membangun sillaturrahiem, menjaga solidaritas pertemanan, sebagaimana yang diajarkan oleh Allah swt., melalui ayat-ayat qowliyah berupa al QurĂ¡n dan hadits, maupun ayat kawniyah, yaitu semisal kehidupan lebah dan lalat tersebut. Wallahu a’lam. (http://uin-malang.ac.id/)




Sabtu, 04 Desember 2010

Gotong Royong Membangun Masjid

http://www.nuansaislam.com/
Ketika tiba di Madinah dalam perjalanan hijrah yang menegangkan dan melelahkan, bangunan pertama yang hendak didirikan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya adalah masjid. Karena itu, beliau mengerahkan para sahabat untuk bekerja, bahu membahu dalam menyelesaikan pembangunan masjid ini.
Meskipun semua sahabat turut serta dalam bergotong royong, sebagai pemimpin, Rasulullah saw tidak hanya memberi instruksi atau memerintah dan mengatur, ternyata beliau juga turun tangan langsung mengangkat batu bata bersama para sahabat sambil bernasyid: "Ya Allah. Tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin." Demikian Bukhari meriwayatkan.
Para sahabat nampak sudah merasa lelah, mereka satu demi satu mulai beristirahat, sementara Rasulullah saw juga sebenarnya sudah lelah, itu nampak dari raut wajahnya, tapi beliau terus saja membawa batu bata sehingga sahabat-sahabat yang sudah mulai beristirahat menjadi malu, apalagi dari segi usia mereka lebih muda. Seorang sahabat yang sudah duduk istirahat akhirnya bangkit kembali dari tempat duduknya, ia menghampiri Nabi yang sedang membawa batu bata sambil mengatakan: “Ya Rasul, engkau nampak sudah lelah, berikanlah batu itu kepada saya biar saya yang membawanya, istirahatlah engkau.”
Rasulullah saw menegaskan sambil menunjuk kearah tumpukan batu bata: “Lihatlah di sana, masih banyak batu bata yang harus dibawa, bila kamu masih mau membawa, ambillah yang di sana, yang ini biar aku yang membawanya.”
Semangat Rasul saw yang tinggi dalam bekerja membuat seorang sahabat sampai bersyair: “Jika kita duduk, sedang Rasulullah bekerja, Itu adalah amal yang sesat dari kami.”

          Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah:

1.    Seorang pemimpin harus mau juga mengerjakan hal-hal yang amat teknis, ia tidak hanya mengatur tapi juga melaksanakan apa yang memang harus dilaksanakan.
2.    Membangun masjid idealnya dengan kerjasama yang baik diantara sesama jamaah, baik dana maupun tenaga sehingga rasa memiliki terhadap masjid menjadi lebih besar dan diharapkan rasa tanggungjawabnya dalam memakmurkan masjid juga besar.